-->

Ad Unit (Iklan) BIG

Makalah kondisi psikologis yang menunjang proses konseling

Post a Comment

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai individu, klien memiliki aspek-aspek psikologis yang sama dengan konselor, mempunyai pribadi, sikap, kecerdasan, perasaan,dan lain sebagainya. Namun dalam statusnya pada situasi konseling, klienmemiliki banyak kekahasan yang harus dipertimbangkan oleh konselor ketika bekerja dengan klien. Pada bab ini akan dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan diri klien, seperti karakteristk klien, harapan-harapan yang diinginkan oleh klien, masalah-masalah yang dialami klien berkaitan dengan perkembangan klien, dan beberapa sikap yang dimunculakan klien dalam proses konseling.
makalah psikologis konseling

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana karakteristik Klien/Konseli?
2. Apa saja harapan-harapan Klien?
3. Bagaimana implikasi perkembangan individu/klien terhadap proses
Konseling?
4. Bagaimana reaksi klien terhadap proses konseling?

C. Tujuan
1. Untuk memahami karakteristik Klien/Konseli
2. Untuk memahami harapan-harapan Klien
3. Untuk memahami implikasi perkembangan individu/klien terhadap
proses konseling
4. Untuk memahami reaksi klien terhadap proses konseling

D. Manfaat
E. Dapat memahami karakteristik Klien/Konseli
F. Dapat memahami harapan-harapan Klien
G. Dapat memahami implikasi perkembangan individu/klien terhadap proses
konseling

H. Dapat memahami reaksi klien terhadap proses konselin


BAB II
PEMBAHASAN

Makalah psikologi konseling

Semua individu yang diberi bantuan profesional oleh seorang konselor ataspermintaan dia sendiri atau atas permintaan orang lain dinamakan klien. Karena dia membutuhkan bantuan, tetapi ada juga yang datangnya bukan kemauan dari dirinya. Dia sadar bahwa dalam dirinya ada suatu kekurangan atau masalah yang memerlukan bantuan seorang ahli yang dapat membantu dirinya dalam mengatasi
permasalahannya.

1. Karakteristik Klien (Konseli)
Pada dasarnya klien (konseli) merupakan orang yang perlu memperoleh perhatian sehubungan dengan masalah yang dihadapinya. Menurut Rogers dalam Latipun (2004) menyatakan bahwa klien adalah orang yang hadir ke konselor dan kondisinya cemas atau tidak kongruensi. Dalam konteks konseling, klien adalah subyek yang memiliki kekuatan, motivasi, memiliki kemauan untuk berubah, dan pelaku bagi perubahan dirinya. 

Jadi sekalipun klien itu dalah individu yang memperoleh bantuan, klien bukanlah obyek atau individu yang pasif, atau yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Manurut Yeo (2003) Klien adalah pribadai
yang mempunyai kebutuhan Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa sejumlah klien dalam menghadapi masalah-masalahnya mempunyai kebutuhan untuk didengarkan atau memerlukan bantuan praktis berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan material, dan mungkin juga membutuhkan bantuan untuk memecahkan masalah pribadinya Namun perlu dipahami dalam hal ini konselor bukan sebagai agen atau teknisi-teknisi mekanis yang berusaha menentukan hidup orang tanpa
keterlibatan pribadi apapun.

Artinya tetap saja klien dilihat sebagai pribadi yang memiliki kekuatan psikis (psychological strenght), memiliki kekuatan untuk tumbuh dan berkembang lebih baik, memiliki kemampuan-kemampuan intrapribadi maupun antar pribadi.

Psikologi konseling sebagai proses terapeutik

2. Harapan-Harapan Klien
Dalam konseling, klien juga memiliki harapan-harapan yang sesuai dengan masalah yang dialaminya. Harapan klien ini sangat dipengaruhi oleh persepsinya tentang fungsi dan pengalaman-pengalamannya dalam hubungannya dengan konseling. Menurut Dennis P. Saccazzo dalam Latipun (2004), penelitiannya menujukkan bermacam-macam harapan sebagai alasan klien datang ke konselor. Harapan- harapan klien adalah sebagai berikut:

a. Untuk memperoleh kesempatan membebaskan diri dari kesulitan
b. Untuk mengetahui lebih jauh model terapi yang sesuai dengan
masalahnya

c. Mengetahui lebih jauh kesulitan/masalah yang dialami sebenarnya.
d. Memperoleh ketenangan dan kepercayaan diri dari rasa ketegangan
dan rasa yang tidak menyenangkan.

e. Mengetahui atau memahami alasan yang ada di balik perasaan dan
perilakunya.

f. Mendapat dukungan tentang yang harus dilakukan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka yang paling banyak menjadi
harapan klien datang ke konselor adalah untuk mengetahui kesulitan dan
masalah yang sebenarnya yang sedang dialaminya serta harapan agar
orang lain menanggapinya sebagaimana layaknya.

Pertanyaan tentang psikologi konseling

Implikasi Perkembangan Individual Klien Terhadap ProsesKonseling Untuk memahami individu (klien) secara menyeluruh dapat dijelaskan dalam proses perkembangan individual klien. Dalam hal ini konselor membantu klien dengan memahami dulu tugas-tugas perkembangan klien. 

Untuk tugas-tugas perkembangan adalah seperangkat keterampilan, sikap, dan pengetahuan yang perlu dikuasai seorang individu sejalan dengan taraf pertumbuhan. Penguasaan tugas-tugas
perkembangan suatu periode merupakan dasar bagi penguasaan tugas-tugas perkembangan berikutnya (Hurlock, 1996). kegagalan seseorang

menguasai suatu tugas perkembangan akan menimbulkan malas yang hebat, penolakan sosial dan akan menambah kesukaran baginya dalam menguasai tugas-tugas perkembangan lebih lanjut.
Secara khusus perkembangan individu (klien) memiliki implikasi penting bagi konseling antara lain dalam hal-hal:

a. Tujuan konseling dapat difokuskan pada pengoptimalan perkembangan klien, upaya-upaya yang memungkinkan klien lebih maju dan menguasai tugas perkembangan.

b. Proses konseling, dan segi perkembangan individu, tidak lain merupakan proses berkelanjutan dalam pemahaman diri, kesadaran potensi diri, kesadaran tuntutan budaya terhadap diri serta memanfaatkan potensi diri dalam kaitannya dengan proses konseling


Bagaimanakah cara pemberian bantuan konseling terhadap warga masyarakat Reaksi-reaksi Klien Terhadap Proses Konseling

Pada proses konseling, konselor akan menemui beberapa reaksi yang dimunculkan oleh klien dalam usahanya mendapatkan bantuan atau anjuran untuk melakukan konseling. Sejumlah reaksi normal terhadap konseling dapat berwujud kecemasan, keengganan, sikap mempertahankan diri dan
menutup diri.

a.Klien yang bersikap enggan
Klien yang bersikap enggan biasanya adalah klien yang tidak memiliki kerelaan untuk melakukan konseling (Yeo, 2003:42). Klien datang untuk konseling di bawah paksaan entah dari keluarga
atau dari lembaga-lembaga yang secara resmi mempunyai kekuatan untuk memaksa (sekolah, perusahaan,dsb). Mereka beranggapan bahwa dirinya tidak bermasalah dan sejumlah klien
memperlihatkan keraguan tentang manfaat konseling.


b. Klien yang menutup diri
Sikap menutup diri ini merupakan satu cara untuk memperlambat proses konseling. Klien akan menutup diri terhadap konseling karena ia harus menempatkan dirinya sendiri dalam suatu relasi ketergantungan dengan berbicara tentang dirinya sendiri dan masalah-masalahnya. Dalam hal ini klien cemas terhadap suatu hubungan ketergantungan (konseling) karena klien menganggap
setiap saat dan setiap waktu ketika ia menghadapi masalah tergantung dengan konselor.

6
BAB III
PENUTUP

Understanding dalam konseling

A. Kesimpulan
1. Karakteristik Klien ini menjelaskan dasarnya seorang klien, karna Pada dasarnya klien (konseli) merupakan orang yang perlu memperoleh perhatian sehubungan dengan masalah yang dihadapinya.

2. Ada beberapa harapan dari seorang klien dari konseling yang dijalaninya
a. Untuk memperoleh kesempatan membebaskan diri dari kesulitan
b. Untuk mengetahui lebih jauh model terapi yang sesuai dengan
masalahnya
c. Mengetahui lebih jauh kesulitan/masalah yang dialami sebenarnya.

3. Implikasi Perkembangan Individual Klien Terhadap Proses Konseling, Dalam hal ini konselor membantu klien dengan memahami dulu tugas-tugas perkembangan klien.

4. Reaksi-reaksi Klien Terhadap Proses Konseling
a. Klien yang bersikap enggan biasanya adalah klien yang tidak memiliki
kerelaan untuk melakukan konseling (Yeo, 2003:42).
b. Klien yang menutup diri Sikap menutup diri ini merupakan satu cara
untuk memperlambat proses konseling.

7Daftar Pustaka

Hurlock, E.B. 1996. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Latipun. 2004. Psikologi Konseling. Malang: UMM Press.
Surya, M. 2003. Psikologi Konseling. Bandung: C.V. Pustaka Bani Quraisy.
Yeo, Antony. 2003. Konseling: Suatu Pendekatan Pemecahan Masalah.
Terjemahan A. Wuisan. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia
Rofik86
Seorang yang berpegang teguh pada komitmen dan tentunya sangat setia pada seorang wanita

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter
close