Ternyata, Lebih baik enak makan dari pada makan enak

PERHATIKAN DAERAH SEKITARMU

Data Covid-19 Indonesia

Positif
Sembuh
Meninggal

Postingan terbaru

Ternyata, Lebih baik enak makan dari pada makan enak

,

Triprofik.com Dalam sebuah kehidupan manusia, kita tau, semua berbeda-beda, dimana kita sudah mempunyai sebuah tempat, rejeki dan rasa keinginan masing-masing, sehingga cukup adil jika semua yang ada pada manusia  dikalkulasi lalu dibandingkan, dan hasilnya akan sama.

Trip Rofik memakai judul Lebih baik enak makan dari pada makan enak, penggalan  kata yang saya dapat dari sebuah koran Ihktibar pada tahun 2014, saat itu saya masih ada di pondok pesantren Sidogiri, kata tersebut merupakan Dawuh Beliau Mas Dwy Sadoellah yang  saya baca waktu itu.

Kini kata-kata tersebut memang bener-bener nyata bagi saya pribadi, dimana waktu itu  saya mengadakan surve pada setiap orang yang hidupnya sederhana namun terlihat bahagia, saya bertanya pada seorang nenek yang sudah sepuh namun masih bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan seorang suaminya, nenek tersebut memiliki cucu perempuan yang sudah menikah dan ikut dengan suaminya.

Berikut petikan percakapan kami
"Nenek kalau dirumah makannya sama apa aja lauk pauknya, " ?
ya sederhana saja, sama Terong dan sambel taras katanya" ( sambal taras adalah sebutan bahasa madura yang bahanya berupa cabe yang dihaluskan dengan garam)

Lalu apakah nenek enak makannya, kalau cuma dengan lauk segitu?" aku meneruskan pertanyaan"
"iya enak, itu sudah enak sekali bagi saya, kadang kalau sudah ingin daging ikan cakalan saya beli, sekali-kali, "sahut nenek tersebut menambahi.

Itulah petikan percakapan saya antara nenek, yang saya dapati masih sehat wal afiat, disaat saya memandang sebuah kehidupan seorang nenek, yang jauh dari kata sempurna, nenek tersebut masih merasa enak, bahkan lebih dari cukup, sedangkan saya yang makannya paling tragis sama telur dadar masih merasa sangat kurang nyaman, , lalu kurangnya apa ya.

Setelah diambil kesimpulan, makanan yang dirasa enak justru masih tidak enak dimakan, dan begitu juga sebaliknya, semua itu hanya pola pikir kita yang sedang tidak enak makan, bukan fisik dari makanan tersebut.

Sejatinya kunci dari kebahagian dan kenyamanan merasakan kehidupan, adalah dari pola pikir dan rasa ketenangan hati dari setiap manusia.

Pernahkan anda merasakan makan ditengah sawah waktu masih kecil, atau jika tidak pernah mengalaminya, pastinya anda pernah mengetahui sebuah status yang menyatakan makan ditengah sawah itu sangat nikmat, lalu apa yang membedakan dengan makan dalam rumah.

Disaat makan ditengah sawah, suasananya  hampir tidak tercampuri oleh kegiatan yang mengundang emosional, suasana yang ada diimbangi dengan tanah lapang, angin sepoi-sepoi meniup, matahari bersinar di tengah waktu Dhuha, rasa capek sudah mulai terasa, haus mulai menghampirinya, sedangkan pikiran dan hati terfokus dan berharap akan datangnya sebuah bekal nasi dari rumah tuan tanah.

Kemudian datanglah bekal yang diharapkan sejak tadi tergiang dalam pikiran, dengan suasana sedemikian rupa, ditambah jernihnya pikiran, maka akan menciptakan makanan yang kita makan akan terasa nikmat dan hal itu sulit sekali dirasakan, momen tersebut sangat langka dijaman sekarang.

Mungkin itulah yang dapat saya ungkapkan tentang apa yang selama ini menjadi penghalang nikmat bagi sebagian kehidupan manusia, hidup itu sederhana, hanya pikiran kita yang memvonis ketiknyamanan.









Mungkin Anda Juga Ingin Baca

TerPopuler