-->

Ad Unit (Iklan) BIG

Kerinduan Seorang Santri Sampai Terbawa Mimpi

Post a Comment
Waktu itu hari raya Idul Fitri dan seperti biasa aku tidak pulang dari pondok pesantren dikarenakan ada beberapa faktorisasi yang membuatku enggan untuk pulang kerumah.

Namun aku tetap saja suka hidup di pesantren dalam kesendirian. Disamping itu tidak ada yang mengganggu, dan itupun selalu aku jalani dengan tenang dan biasa saja, kadang setelah malam tiba ada beberapa temanku yang datang padaku, tapi kebanyakan aku menikamti dalam kesendirian.

Karena cuma akulah yang hidup sendirian di pesantren otomatis akulah yang mengurusi Masjid untuk mengumandangkan Adzan lima waktunya.

ya aku cuma mengurisi itu saja namun aku selalu istiqomah berjemaah bersama sang kiai.  rasanya ada kesan khusus jika hanya berjamaah berdua dengan seorang guru yang aku cintai.

sempat suatu waktu aku telat hadir ke masjid, ya secara tidak langsung masjid tidak ada yang azdan shubuh, aku terasa malu, aku merasa bersalah sangat bersalah, namun aku terus berusaha memperbaiki diri. 

15 hari aku selalu berjemaah dengan sang kiai dalam setiap tahunnya.
namun sekarang sang kiai telah tiada yang membuat aku rindu dan bermimpi dalam setiap tidurku. yaa aku bermimpi dalam setiap kerinduan ini datang.


اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

Rasanya ingin mengulang waktu yang telah di telan masa, namun siapa yang bisa membuat waktu kembali lagi. aku hanya bisa berdoa, semoga aku dapat di pertemukan lagi dengan sang kiai di akhirat nanti AAmiin...
waktu begitu singkat, semua ingatan tentang sang kiai terekam jelas di memori ingatan, Memory yang masih haus akan pertemuan yang hanya sekejab ini.


Kejadian:
paling aku ingat disaat sang kiai menjadi imam sholat yang mana hanya akulah makmumnya.
yang paling aku ingat di saat sang kiai mengajakku dan duduk berdua di atas sepeda.

waktu itu aku tidak senaja melintas di depan Dhalem Kiai, dan akupun dipanggil oleh bilau kemudian disuruh ikut beliau dengan mengendarai sepeda berdua. aku terasa dekat dengan beliau, sebuah kebanggan bisa sedekat itu,  yang mungkin jarang di alami oleh kebanyakan santri. 


Suasana lain yang menyelimuti masa translet dari pesantren MBU ken PP.Sidogiri  yang membuatku ingin selalu bertemu dengan sang kiai, ada rindu yang sudah tertanam dan terpupuk dengan bumbu ingatan yang begitu mendalam.

waktu itu aku duduk santai didepan kamar pondok. kebetulan kamar pondokku berada di depan Masjid jamik Sidogiri, ditengah kerumunan santri yang baru turun dari lantai dua terlihatlah sang kiai dengan ciri khasnya, memalingkan pandanganku terfokus pada beliau, serentak aku bergegas masuk kekerumunan santri, dan disitulah aku bersalaman mencium tangannya.

dawuh beliau yang sepontan aku dengar agar aku ikut dengan beliau ke balai tamu selatan gedung sekolah.

pulangan dari PPS akupun terjun ke MBU yang mana kejadian itu selalu terulang dalam setiap tahunnya.

Di hari raya aku masih menetap di pesantren MBU  Sepintas kejadian yang sama terjadi lagi, aku hanya berjamaah berdua dengan beliau.

semua itu terbentuk dan menjadi sebuah kenangan yang tidak dapat aku lupakan, dan akan menjadi sebuah sejarah dalam perjalanan hidup ini .

Ini kisahku sehingga kisah itu menjadi sebuah mimpi, yang tak dapat aku hindari, seakan-akan kejadian itu baru kemaren terjadi.









Rofik86
Seorang yang berpegang teguh pada komitmen dan tentunya sangat setia pada seorang wanita

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter
close