Cerita Perjalanan Gunung Bromo dengan motor

PERHATIKAN DAERAH SEKITARMU

Data Covid-19 Indonesia

Positif
Sembuh
Meninggal

Postingan terbaru

Cerita Perjalanan Gunung Bromo dengan motor

,

Triprofik.com Bromo bukan hal yang asing lagi buat pendaki gunung, gunung Bromo memang sejak dulu memberikan pesona alam yang sungguh luar biasa, dan itupun tidak ada tandingannya, wisata dijawa timur, terkenal dengan gunung Bromo dan kawah Ijen, keduanya sama-sama gunung yang memang tidak ada duanya didunia.

Wajar saja kalau gunung Bromo menjadi iconnya para wisatawan dijawa timur, setiap tahunnya gunung Bromo rame dengan pengunjung, baik dari wilayah Indonesia sendiri bahkan mancanegara, wisata gunung Bromo tidak ada habisnya untuk di explor, keindahan alamnya mungkin tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata bijak manapun, sungguh ciptaha tuhan yang sangat luar biasa.

Gunung Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktiv hingga sekarang, namun masih dapat dikunjungi wisatawan apabila tidak ada tanda-tanda yang berbahaya dari gunung Bromo, ataupun tidak adanya peringatan dari pengurus setempat, bisa dipastikan gunung Bromo masih aman saja di kunjungi para wisatawan.

Gunung Bromo Meletus
Gunung Bromo mengalami erupsi sudah beberapa kali dan peringatan dini sudah diluncurkan dengan tanda-tanda yang sudah terjadi sebelumnya, tercatat gunung bromo pernah meletus puluhan kali dan hampir tidak menetukan kalau gunung Bromo sudah sejak lama sering mengalami erupsi, dan berikut data dari tahun ketahun letusan gunung bromo yang berhasil diabadikan oleh wikipedia.

Sejarah letusan Bromo seperti dilansir wikipedia terjadi: 2011, 2010, 2004, 2001, 1995, 1984, 1983, 1980, 1972, 1956, 1955, 1950, 1948, 1940, 1939, 1935, 1930, 1929, 1928, 1922, 1921, 1915, 1916, 1910, 1909, 1907, 1908, 1907, 1906, 1907, 1896, 1893, 1890, 1888, 1886, 1887, 1886, 1885, 1886, 1885, 1877, 1867, 1868, 1866, 1865, 1865, 1860, 1859, 1858, 1858, 1857, 1856, 1844, 1843, 1843, 1835, 1830, 1830, 1829, 1825, 1822, 1823, 1820, 1815, 1804, 1775.

Dengan kejadian meletusnya gunung Bromo ini tidak dapat menjadikan momok menakutkan bagi masyrakat tengger semeru, dan masyarakat sekitar gunung Bromo sudah terbiasa dengan batuknya gunung Bromo, namun peringatan dari pemerintah masih dipatuhi oleh masyarakat sekitar.

Entah sudah berapa kali gunung Bromo mengeluarkan erupsinya, namun semua itu tidak menjadikan para wisatawan terhenti mengunjungi gunung Bromo, untuk selanjutnya para wisatawan dilarang memasuki area gunung Bromo jika dianggap membahayakan.



Mengunjungi gunung Bromo melalui jalur Probolinggo
Kebetulan waktu itu aku masih belum pulang kerja, dan berencana mengunjungi rumah temanku di kota Probolinggo, namun aku berasama kawanku yang ada di Bondowoso, sebelum aku berangkat ke Probolinggo, aku harus menjemput kawanku Imron yang ada di Tenggarang Bondowoso.

Sepulang kerja pada jam 15:00 sore hari, aku memulai keberangkatan ke Tenggarang, namun ditengah perjalanan hujan deras mengguyur tanah Bondowoso, sehingga badanku basah dengan air hujan yang tiba-tiba turun ditengah perjalananku.

Sempat berhenti menunggu redanya hujan, namun hujan malah makin deras saja, aku tidak sabar jika harus menunggu lama, aku paksakan berangkat meskipun hujan sedang turun sedaras-derasnya, dan itupun aku sempat berhenti beberapa kali dalam perjalanan, sebab jalanan mulai tidak kelihatan akibat hujan deras yang mengguyur tanah kotaku ini.

Derasnya hujan berganti rintik kecil yang mampu aku lawan, sesampainya dirumah Imron Tenggarang, aku cuma istirahat sebentar saja sambil menunggu azan mahgrib, setelah sholat mahgrib disana, kami bersiap berangkat ke kota Probolinggo.

Masih mendingan baju yang aku pakai mulai mengering diterpa angin jalanan, semakin jauh dari kotaku, dan mulai memasuki wilayah pertengahan kota Probolinggo temanku memberhentikan sepedanya, dengan bergantian aku yang membawa motornya.

Selang satu jam kemudian kami tiba di rumah temanku  Probolinggo dengan memakan waktu sekitar 2 jam dari kota Bondowoso, sesampai di sana aku disambut dengan hangatnya Teh manis yang sudah dipersiapkan jauh hari untuk menyambut datangnya kami dari kota Bondowoso.

Sudah terbiasa setelah sampai dirumah temanku ini, kami diajak makan bersama, dan makanan itu tidak sama dengan makanan yang aku makan setiap harinya, menurutku itu kepeting yang ada disungai, eh ternyata beda, awalnya aku merasa tidak enak makan makanan seperti itu, namun dengan saran temanku yang sekaligus tuan rumah ini, aku mencoba memakannya.

Dan ternyata makanan tersebut enak sekali, tapi sayangnya lebih banyak tulangnya daripada daging yang ada didalam tubuhnya, tapi tidak apa-apa jika hanya untuk merasakan sensasi makanan yang dirumaku sendiri tidak ada.


Sehabis makan malam, kami bertiga memilih beristirahat terlebih dahulu, untuk menghilangkan capek dalam perjalanan, apalagi kesokan harinya kami akan mendaki gunung Bromo yang memang  lokasinya berada dalam kabupaten Probolinggo ini.

Keberangkatan ke gunung Bromo
Pagi hari menyambut kami ditanah Probolinggo, dengan semilir angin musim hujan yang tidak begitu dingin, memang ditanah probolinggo tidak begitu dingin dibandingkan dengan Bondowoso, entah apa yang membedakannya, aku tidak mengerti.

sebelum keberangkatan, dipastikan dulu kalau perut kami terasa kenyang agar ditengah perjalanan tidak terganggu dengan laparnya perut yang selalu menagih jatahnya bila waktunya datang.

Perjalana dimulai pada jam  07 pagi, karena kami bertiga tidak begitu tau arah menuju gunung Bromo, jalan satu-satunya kami menggunakan Google Maps untuk memandu perjalanan kami.

Lagi-lagi Google maps membuat kami bingung dan nyasar pada tengah sawah penduduk sekitar, al hasil kami dilihat banyak orang yang sedang bekerja disawah, eehhh ternyata jalan buntu. hahah payah, Google yang salah apa kami yang tidak tau cara menggunakannya.

Tapi tak apalah itu hanya awal dari kisah perjalanan kami, dan setelah itu kami mulai serius berangkat menyusuri jalan yang sudah ditunjukkan  oleh Google maps ini.

Setengah perjalanan sudah kami libas dan hampir memasuki wilayah yang katanya disana banyak begal, tapi aku gak begitu percaya sih, teman aku yang asal Probolinggo tiba-tiba ditelfon oleh seseorang yang merupakan temannya, dia bilang jangan lewat disitu berbahaya, karena banyak begal katanya.

Namun aku tidak percaya begitu saja, karena waktu itu masih jam 8 pagi dan rasanya tidak mungkin jalanan yang kami lewati itu rawan begal, dan disekitar kami masih banyak kendaraan yang menuju  kearah yang sama.

akan tetapi temanku Lukman mengikuti petunjuk temannya tersebut, dan kami harus putar balik yang jika di akumulasi mundar 2 jam dari perjalanan, biasanya kami sampai pada jam 10 ke wisata gunung Bromo, maka kami membuang waktu 2 jam dan sampai pada jam 12 siang.

Awalnya temanya Lukman yang nelfon tadi ingin ikutan juga, setelah mengatur janji dan berhenti disuatu tempat, dia tidak ada kabar sama sekali, hpnya tidak aktiv dan semua akun media sosialnya tidak dapat dihubungi.

Begitulah kadang hambatan dalam perjalanan yang tidak begitu seportif, tapi tak apalah itu rintangan kedua dalam perjalanan kami menuju gunung Bromo.

Perjalanan kami teruskan meskipun waktu sudah beranjak siang, Setelah kami memasuki wilayah gunung Bromo, kami membayar tiket terlebih dahulu, dan kebetulan waktu itu hari libur jadi harga tiket lebih mahal dari hari biasanya.


Berikut harga tiket Gunung Bromo
Jadi kami mebayar 34 per orang, jika dihari biasa harus membayar 29 ribu untuk wisatan lokal,
sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan biaya tiket 220.000 ribu dihari biasa dan 320.000 dihari libur.

Kami berangkat menggunakan sepeda motor yang satu boncengan yang satunya lagi sendirian, kami mendekati gunung Bromo dengan sepeda motor yang kami bawa, memang jalanan digunung Bromo tidak begitu sulit, hanya saja banyak pasir yang memperlambat perjalanan.

Setelah kami sampai dititik terahir dalam parkir sepeda motor, kami mulai menaiki gunung Bromo dengan secara bergantian, karena salah satu dari teman kami khawatir dengan sepeda motor jika di tinggal begitu saja.

Namun meskipun tidak mendaki bersama, keindahan gunung Gromo tetap dapat dinikmati dengan perbincangan yang mengalir begitu saja dalam pendakian, yah meskipun itu hanya candaan biasa untuk menghilangkan rasa capek yang sejak tadi menghampiri kami dalam perjalanan.

Persiapan kami begitu minim, air mineral yang aku sediakan sejak malam hari ketinggalan dirumah temanku Lukman, jadi kami harus membeli air minum yang harganya fantastis dari biasanya, maklum lah ini kan tempatnya diatas gunung, toh pedagang yang ada disana harus berjuang membawa dagangannya untuk mencapai puncak gunung, menurutku ini wajar saja, karena mereka harus bersusah payah mencapai puncak dengan ketinggian yang membuat kakiku berat dalam melangkah.

Kami mulai melangkahkan kaki melalui anak tangga menuju kawah gunung Bromo, tak sempat kami berfoto-foto karena keasikan menikmati capeknya mendaki gunung meskipun dibantu dengan anak tangga.

akan tetapi kami mencoba merekam video dengan alasan di terbitkan ke Youtube, mungkin kalian bisa menyaksikan dalam blog ini, dan ini videonya.

Perjalanan pulang

Setelah puas dengan meng explor Gunung Bromo, yang katanya surganya jawa timur, dan juga sangat pempesona diomongin banyak orang, serta berbagai keindahan alam yang tidak ada duanya, dan ternyata semua itu memang benar, gunung Bromo memang sangat mempesona dari pegunungan lainya.

Meskipun bentuk gunungnya kecil namun mempunyai pada pasir yang luas sehingga menjadikan gunung Bromo berbeda dengan gunung yang lainnya, tak dapat dipungkiri lagi gunung Bromo memang banyak menarik wisatawan lokal bahkan mancanegara.

Setelah seharian kami meng explor gunung Bromo, akhirnya kami memutuskan pulang, karena sudah merasa capek jalan-jalan menghilangkan kebiasaan dalam setiap harinya.

kami pulang melewati jalur yang kami tidak tau sebelumnya, yang terpenting kami mengikuti papan petunjuk menuju kota Probolinggo, dengan tanpa disadari kami melewati jalur yang katanya terdapat begal beraksi di sana, setelah saya analisa, jalananya ramai dan tidak begitu sepi kalau siang hari, apa dimalam hari ya ?.

Dalam perjalanan perut terasa lapar dan berencana mampir kewarung makan yang ada dipinggiran jalan kota Probolinggo, namun temanku lukman merasa bingung menentukan warung yang mana untuk dapat mengisi kekosongan perut kami.

dengan rasa bingung kami jalan lurus dengan teman kami, sedangkan lukman  berada didepan kami, kami hanya mengikuti lukman yang memang dia tau keseluk-beluk kota Probolinggo.



dan tidak tau kenapa kami lebih dulu sampai di rumahnya lukman dan Lukman sendiri hilang ditengah perjalanan, padahal dia berada didepan kami dari awal berangkat pulang.

tiba-tiba hp ortunya Lukman berbunyi dan terdengar suara Lukman menelfon untuk memastikan kalau kami sudah berada dirumah dia.

walhasil kami sampai lebih dulu sebelum tuan rumah datang, huh sungguh perjalanan yang begitu melelahkan namun terbayar dengan capek dan terhipnotis dengan pesona gunung BROMO.

Bercinta dengan alam memang tidak ada habisnya.

Dan Berikut Gambar Gunung Bromo Yang berhasil kami abadikan




Mungkin Anda Juga Ingin Baca

TerPopuler